Wednesday, January 27, 2010

Thamrin Ditolak Jadi Dekan


Dari Equator News

Kamis, 21 Januari 2010 , 00:59:00

Fakultas kedokteran mestinya dipimpin dokter. Untan tak bergeming dan tak keder. Mahasiswa dan dokter terus beleter.

Pontianak. Mahasiswa kedokteran biasanya jarang demo. Kemarin (20/1), puluhan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Untan beserta dosen menggelar unjuk rasa perdananya. Tak tanggung-tanggung, Dr Thamrin Usman DEA baru dilantik jadi Dekan didemo habis-habisan. Persoalannya sepele, karena Thamrin bukan dokter.
“Kami meminta pelantikan ini digugurkan. Kami nilai ini suatu penghinaan,” kata John Hard, dosen luar biasa di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Untan Pontianak, kemarin (20/1).
Hal itu diteriakkannya tanpa pengeras suara di teras depan Rektorat Untan Pontianak. Hal tersebut dibenarkan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Untan Pontianak yang berunjuk rasa menuntut penghentian pelantikan Thamrim Usman menjadi Dekan.
Di waktu bersamaan, di lantai tiga Rektorat Untan Pontianak, dilaksanakan Upacara Pelantikan/Serah Terima Jabatan Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dan Pejabar Struktural di Lingkungan Untan Pontianak.
Para pengunjuk rasa yang membawa berbagai poster penolakan dekan kedokteran dari non-dokter berupaya masuk ke tempat upacara pelantikan sejak sekitar pukul 09.00. Tetapi, keinginannya itu tidak dipenuhi pihak Untan.
Karena keinginannya tidak dipenuhi tersebut, suasana pun mulai memanas. Puluhan pengunjuk rasa yang mengenakan pakai seragam putih-putih itu mulai meneriakkan yel-yel penolakan terhadap dekan dari non-dokter.
John Hard yang merupakan dokter spesialis bedah, tampak mulai emosi dan membakar Surat Keputusan (SK) mengajarnya di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Untan. Itu sebagai bentuk penolakan terhadap dekan kedokteran dari non-dokter. “Dokter seharusnya dipimpin dokter. Kalau tidak, itu penghinaan namanya. Kami tidak terima!” teriaknya.
Dikarenakan suasana semakin memanas, Pembantu Rektor (Purek) IV Dr Edy Suratman pun menemui para pengunjuk rasa. Kedatangan pria berkumis ini ternyata membuat pengunjuk rasa semakin marah. Tetap saja membawa pesan tidak boleh masuk ke ruang pelantikan.
Perdebatan pun tidak dapat dielakkan, terutama antara koordinator demonstrasi John Hard dengan Purek IV Edi Suratman itu. Keduanya mulai tampak emosi, sekalipun Edi Suratman tampak lebih sabar.
Setelah Purek IV tidak bisa menenangkan para pengunjuk rasa, dosen Untan lainnya juga turut menenangkan pengunjuk rasa. Untuk sementara, suasana memanas dapat diredakan.
Tetapi, hanya berselang beberapa menit saja, kembali pengunjuk rasa berupaya masuk ke ruang pelantikan. Tak ayal, saling dorong pun tak dapat dielakkan antara pengunjuk rasa dengan security kampus serta dosen Untan.
Dikarenakan saling dorong tersebut, pintu kiri depan Rektorat Untan Pontianak yang terbuat dari kaca berderai. Seorang security mengalami luka di bagian belakang kepalanya, terkena serpihan kaca yang berantakan.
Security kampus tersebut berlari seraya memegangi kepala bagian belakangnya untuk mendapatkan pertolongan pertama. Selanjutnya, dia di bawah ke rumah tangga kampus untuk mendapatkan pengobatan.
Ketika pintu rektorat berderai menghantam lantai ubin Rektorat Untan, suara menggelegar yang dihasilkannya di dengar Rektor Untan Pontianak Prof Dr Chairil Effendy yang baru saja usai memimpin upacara pelantikan. “Apa itu, sampai pecah-pecah gitu, kenapa sampai begitu,” katanya ketika menuruni tangga Rektorat.
Selanjutnya, Chairil pun langsung menemui para pengunjuk rasa yang bertabur biar di lobi Rektorat Untan. Dia meminta perwakilan pengunjuk rasa untuk menemuinya di ruang Rektor. Pertemuan antar Chairil dengan beberapa perwakilan pengunjuk rasa tersebut dilakukan secara tertutup.
Menyangkan Demo
Ketua Dewan Pembina III Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FK-IK) Untan, H Ilham Sanusi tidak sependapat dengan keputusan pendemo menolak pelantikan Thamrin Usman sebagai Dekan FK-IK.
“Saya heran mengapa mesti ada demo yang dilakukan kalangan dokter yang tidak menginginkan DR Thamrin dilantik. Kita harus tahu fungsi dan peran kita soal pelantikan itu,” ucap Ilham.
Pelantikan merupakan ranah universitas, bukan ranah rumah sakit. Yang perlu diketahui bahwa Dekan dan dosen senior di Untan hanya Thamrin. “Kalau pun ada saran, ambil saja Dekan FK-IK dari UI. Tapi, apakah itu harus kita lakukan kalau ada SDM kita yang mampu memimpin FK-IK Untan,” tegasnya.
Ilham menilai, kebijakan Rektor Untan melantik Dekan FK-IK sudah tepat dan bijaksana. “Saya ucapkan selamat kepada Rektor Untan bahwa sudah diresmikannya FK-IK dan dilantiknya DR Thamrin sebagai Dekan FK-IK pada hari ini,” lanjutnya.
Ilham memiliki segudang alasan mendukung pelantikan Thamrin. “Sebelumnya, FK adalah Prodi yang dinaungi FMIPA Untan yang dibina DR Thamrin dan dibantu oleh Ketua Prodi Kedokteran, seorang Prof dari FK Universitas Indonesia (UI) yang menetap di Untan,” kenangnya.
Menurut Ilham, sejak dibangunnya FK, Thamrin berperan aktif sebagai aktivis pendiri. Kemudian juga ikut membesarkan Prodi Farmasi dan Keperawatan. Dalam proses belajar-mengajar, Thamrin juga ikut aktif selama lima tahun, sampai mahasiswa bisa mengikuti praktik di rumah sakit di Kalbar yang telah melakukan kerja sama dengan FK Untan.
Ilham mengaku sangat menghargai kebijakan Untan yang bekerja sama dengan FK UI, di mana biayanya dibantu Dewan Pembina dari pemerintah kabupaten/kota. Berdasarkan penilaian terakhir dari FK UI, mahasiswa FK Untan nilai akademiknya sangat tinggi. Bahkan, tidak kalah dengan mahasiswa FK yang ada di Indonesia. Untan juga telah melakukan MoU dengan rumah sakit yang ada di Kalbar dan bahkan di luar negeri untuk praktik magang mahasiswa FK Untan.
Ilham merespons positif atas kebijakan Rektor Untan mengangkat Dekan FK bukan dari kalangan dokter. Alasannya, untuk reformasi dunia pendidikan. “Dekan itu seorang manager yang pandai mengelola manajemen FK. Kemudian, dibantu oleh Ketua Prodi atau Jurusan Kedokteran Umum, Farmasi dan Keperawatan. Jabatan Ketua Prodi atau Jurusan itulah yang nantinya sesuai dengan kompetensinya,” jelasnya.
Soal kualitas, Ilham sangat yakin dengan kemampuan Thamrin yang tamatan luar negeri dan memiliki wawasan internasional. Kondisi seperti itu jelas sangat diperlukan, terlebih memasuki AFTA di mana Kalbar harus tingkatkan daya saing.
“Selain itu, pengangkatan Dekan FK-IK ini juga telah disetujui oleh Dikti. Jadi bukan keinginan Rektor Untan semata. Dirjen Dikti sendiri setuju kalau Dekan FK-IK bukan dari kalangan dokter,” tuntas Ilham. (dik/bdu)

No comments:

Post a Comment